Daisypath Anniversary tickers

Daisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label #cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

aku dan segala sesuatu yang terjadi begitu cepat (jilid I)

Sebenernya belum pengen sharing dulu karena katanya pamali klo masih usia awal tapi udah dikasih tau kemana-mana tapi sungguh sangat amat bahagia dan ga afdol rasanya klo ga berbagi kebahagiaan juga sama yang lain.. :malu

2011 ini memang the most year full of blessings in my life.. Padahal di tahun 2010 boro-boro ada sederetan resolusi yang dibuat (pengalaman tahun-tahun sebelumnya cuma jadi catetan doank dan kebanyakan ga terealisasi, hwehe) jadinya bener-bener ga nyangka klo tahun ini semua yang (sejujurnya sih..) udah diharapkan dari sejak lama terjadi dalam kurun waktu (ish.. sadap bahasanya) yang amat sangat cepat, dan rapat.

Mulai dari kenalan sama cowo (yang alhamdulillah sekarang udah sah jadi suami), pacaran, lamaran, nikah, dan akhirnya.... jreng.. jreng.. HAMIL. Subhanallah Ya Allah... sungguh bahagia hati ini (dan suami pastinya) menerima seluruh karunia dan kepercayaan yang Engkau berikan dalam kurun waktu yang amat sangat tak terduga ini..

Klo diitung-itung nih ya kronologis yang dimaksud dengat cepat dan rapat tuh yang seperti ini kurang lebih:
1. Kenalan : Lupa persisnya kapan, klo ga salah pertengahan April atau Mei gitu..
2. Pacaran: resminya nih yaaaa (lagi-lagi klo ga salah, huhahahahaha) tgl 1 Aguatus 2011 persis pas 1 Ramadhan. Nah, jarak dari kenalan sampe akhirnya pacaran aja udah deket bgt kan..
3. Lamaran: yeyeyeye... ga percuma kenalan dan pacaran, akhirnya langsung dilamar dan tanggalnya (kalau yang ini yakin seyakin-yakinnya) tanggal 3 September 2011. Tuh kan jarak dari pacaran ke lamaran aja cuma sebulan lebih 2 hari..
4. Nikah: yeyeyeyeye.. ga sia-sia waktu itu nerima lamaran suami karena akhirnya dinikahin juga :DD. Tanggalnya tepat di hari Sabtu, 10 Desember 2011, insyaAllah ga salah. Nah klo diitung-itung lagi jarak dari mulai kenalan sampe akhirnya nikah cuma 8 bulan saja etapi karena pas kurun waktu kenalan sampe pacaran itu ga intens mungkin bisa langsung lompat ke masa pacaran aja yang berarti jarak ke nikah itu cuma 4 bulan saja sodara-sodara! (mungkin sebagian orang ada yang lebih singkat lagi, buat yang ta'aruf biasanya.. etapi yang ga pake ta'aruf juga banyak koq yang singkat, ah yasudahlah).

Semuanya menjadi semakin terasa cepat dan seolah-olah tanpa jeda sampai akhirnya.... nah ini kronologisnya.. yuk mulai!

Sekitar 2 minggu setelah nikah ga biasanya pagi itu aku koq ngerasa pusing banget dan langsung ngibrit ke kamar mandi yang alhasil muntah di toilet (ga muntahin makanan atau apapun sih cuma berupa cairan aja tapi di lidah rasanya paiiiiit banget, wueks!)
Suami nyamperin ke kamar mandi dan ngasih air minum anget katanya biar perutnya enakan dan bilang klo aku mungkin telat makan dan masuk angin. Setelah minum air anget yang dikasih suami, siangnya mulai beraktivitas seperti biasa (kebetulan masih cuti) jadi aku cuma beres-beres di rumah aja dan ga pergi kemana-mana. Ga lama setelah beres-beres rumah badan kerasa luar biasa capek dan langsung pusing padahal beres-beresnya biasa aja ga yang heboh apa gimana sampe akhirnya..........


cheers,

cHi-Q

Kamis, 08 September 2011

aku dan dia yang akhirnya datang..

1 Agustus 2011 atau bertepatan dengan hari pertama puasa, dia secara tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat melalui facebook. Tanpa basa-basi dia pun langsung meminta no hp dan to the point minta pin bb. Padahal dari semenjak menjadi teman di fb sejak sekitar bulan April atau Mei (bahkan saya pun lupa tepatnya kapan), kondisi kami vacuum alias ga pernah ada komunikasi apapun tapi ya.. sedikit banyak sudah saling mengenal satu sama lain walau ga begitu kenal deket.

Well then, dengan berbekal keyakinan bahwa dia orangnya insya Allah ga akan macem-macem, saya akhirnya "menggadaikan" no hp dan pin bb saya ke dia. Ternyata memang dia tipikal orang yg ga terlalu suka basa-basi, begitu dikasih no hp dan pin bb, komunikasi langsung mengalir lancar bahkan deras sampe bleberan , hwehehehe.. dan anehnya saya seneng-seneng aja :D


Singkat kata - singkat cerita, ternyata Allah memang amat sangat mengetahui apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.. Saya memang berkeINGINan untuk menikah sebelum usia 25 tahun atau paling telat-telatnya banget sebelum papa saya pensiun di taun depan tapi saya mencoba untuk ga ngoyo nyari pasangan hidup karena saya ngerasa sekalinya saya berharap banget, eh rencana saya nikah sebelumnya harus kandas. Sampai akhirnya Allah mengirimkan apa yang saya butuhkan, yaitu pasangan hidup yang ga pernah saya sangka sebelumnya kalau ternyata dia yang bakal dengan gentle melamar saya ke ortu (dan dia to the point juga menyatakan kalau dia serius mau membina hubungan sama saya sampe papa saya ga bisa ngomong apa-apa, pintar kamu Mas... ).

Ya, disaat saya pasrah tentang apa yang akan terjadi sama kondisi percintaan (cieee....) saya karena masih males untuk nyari pengganti yang sebelumnya dan mencoba ikhlas dan pasrah sama keINGINan saya yang pengen nikah sebelum usia 25 tahun tapi justru disaat itulah Allah menganggap bahwa saya BUTUH seseorang yang akan jadi imam saya dan anak-anak saya kelak. Allah tahu kapan waktu dan orang yang terbaik untuk kita, percaya lah Allah amat sangat sayang sama kita, umatnya, selama kita tetap berdoa dan memohon pada-Nya.

Dan setelah kedatangan dia.. waktu itu pun datang juga

Senin, 06 Juni 2011

aku dan kebingunganku..

Apa alasan dan latar belakang ga boleh menikah dengan sesama pegawai di suatu perusahaan?

Ada yang bisa bantu kasih penjelasan rasional?

Perusahaan tempat saya bekerja termasuk dalam salah satu perusahaan yang menerapkan hal tersebut. Sedih memang karena to be honest.. banyak yang masih single -dengan masa depan yang insya allah cerah- untuk digebet, hehe..
Tapi dengan adanya KD (Keputusan Direktur) di tempat saya bekerja mengenai peraturan yang melarang terjadinya pernikahan sesama pegawai kecuali salah seorang harus mengundurkan diri maka kesempatan untuk dapat saling menggebet pupus sudah.
Saya pribadi termasuk yang kesal dengan adanya peraturan itu karena menurut saya itu pelanggaran HAM. Jadi ingat perkataan salah seorang dosen saya, beliau bilang "Perusahaan yang melarang pernikahan antar sesama pegawai berarti perusahaan yang melanggar HAM".
Apa kita bisa menghindar kalau muncul perasaan suka terhadap rekan kerja kita yang notabene sering bertemu hampir setiap hari atau jarang bertemu di kantor tapi bertemu saat ada "meeting"? Pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino".

Ada beberapa alasan yang pernah saya denger kenapa sampai muncul peraturan ini, diantaranya:
1. Menghindari terjadinya conflict of interest
2. Agar konsentrasi kerja tidak terganggu
3. Sensitif terhadap lingkungan kerja (apalagi kalau ada gosip terkait suami/istri)

Alasan diatas menurut saya banyak lemahnya juga, yaitu:
1. Menghindari terjadinya conflict of interest
    Conflict of Interest bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Konflik kepentingan, ya, setiap orang punya kepentingan tapi sejauh mana kepentingan itu diposisikan tergantung pada pribadi masing-masing. Mengatasnamakan profesionalisme saya rasa hal tersebut bisa dihindari. Urusan rumah tangga tidak usah dibawa ke kantor, ditinggal saja di rumah. Gampang memang kalau berteori tapi terbukti banyak juga rekan-rekan di kantor saya yang bisa melakukannya (sebelum KD yang melarang pernikahan sesama pegawai di-sah-kan, banyak rekan-rekan di kantor yang mempercepat pernikahan, haha ) dan sejauh ini berdasarkan pengalaman mereka, selama masing-masing pasangan mampu bersikap profesionalisme di dunia pekerjaan dan rumah tangga, tidak ada masalah.
2. Agar konsentrasi kerja tidak terganggu
  Menurut saya, ini tidak bisa dijadikan alasan karena banyak hal yang dapat mengganggu konsentrasi seseorang dalam bekerja. Mungkin yang menjadi dasar kenapa alasan ini muncul adalah ketika terjadi permasalahan rumah tangga maka ketika di kantor akan mempengaruhi mood dalam bekerja misal, jadi uring-uringan atau bawaannya jadi pengen marah-marah atau tidak semangat bekerja. Kalau memang, terkait dengan poin 1, setiap pasangan dapat menjaga profesionalisme dalam bekerja hal tersebut bisa dihindari. Sulit memang tapi saya yakin pasti bisa dilakukan.
3. Sensitif terhadap lingkungan kerja (apalagi kalau ada gosip terkait suami/istri)
    Haiaaah ini lagi, kalau emang dari sananya udah ada dasar saling percaya insya allah ga terlalu jadi halangan. Memang sedikit banyak akan berpengaruh atau menyinggung jika ada selentingan kabar atau gosip apalagi terkait dengan orang terdekat kita tapi semua itu kan bisa langsung meminta klarifikasi kepada suami/istri.

Saya setuju dengan perusahaan yang tetap memperbolehkan terjadinya pernikahan dengan sesama pegawai kalau ada beberapa batasan tentunya batasan tersebut haruslah adil bagi semua pihak, misal tetap memperbolehkan terjadinya pernikahan namun untuk tetap menghargai posisi suami sebagai imam dalam keluarga maka begitu pun dalam lingkup pekerjaan, jabatan istri tidak boleh lebih tinggi dari jabatan suami sehingga hal tersebut justru dapat saling memicu kinerja masing-masing.. Kalau pun ada persaingan diharapkan akan menjadi persaingan yang positif dan berdampak positif juga bagi perusahaan.

Aaaah, sampai sekarang still wondering why that thing could happen?

*based on the true story ^__^v

cheers,
cHi-Q